
Di antara lembar awal sejarah republik yang masih dalam perjuangan, nama Haji Muhammad Rasyidi terukir tanpa hiasan emas.
Lahir di Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915, ia tumbuh dari tanah yang mengajarkan kejujuran lebih berharga dari gemerlap.
Anak seorang pedagang sederhana, Rasyidi belajar bahwa keberkahan tak selalu datang dari kelimpahan, melainkan dari hati yang bersih.
Jalan hidupnya membentang melewati pesantren dan universitas, dari Madrasah Mualimin Muhammadiyah di Yogyakarta hingga Fakultas Sastra Arab Universitas Kairo. Pengetahuannya luas, namun sikapnya tak pernah menjulang di atas orang lain. Ia tidak membangun jarak; dalam kesahajaan, ia justru mendekat.
Ketika Republik yang baru merdeka berupaya menata kementerian-kementerian, Bung Karno menunjuk Rasyidi menjadi Menteri Agama pertama pada 3 Januari 1946.
Jabatan itu datang di tengah suasana genting: negara masih rapuh, perang kemerdekaan belum reda. Namun bagi Rasyidi, jabatan bukanlah undangan untuk kemewahan.
Bersambung
Penulis : Waka Humas ( Hendri Sirajobulu )
.
|
129x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...